Keluarga SPI Bersama YUYUN

Keluarga SPI Bersama YUYUN

Topik Terhangat

Home » , , , , , » Tony. P Bagian I (What Happen in Bandung?)

Tony. P Bagian I (What Happen in Bandung?)

Written By Riani on Sabtu, 07 Mei 2016 | 20.42

‘Inspired by Sir Arthur Conan Doyle’



            Namaku Alex W.F dan aku adalah seorang perantau dari suatu negeri yang berada di Benua Eropa. Negeri yang dimana terkenal akan liga sepak bola, jam besar Big Ben yang begitu dikagumi oleh hampir semua orang di dunia ini. Suatu negara yang masih menganut pemerintahan monarki, dimana kini Ratu Elisabeth II adalah penguasa tertinggi di negeri Britania Raya.
            Kota London merupakan kota kelahiranku sekitar dua puluh lima tahun yang lalu. Suatu kota metropolitan dan merupakan pusat ekonomi Inggris hingga saat ini. Dimana Big Ben yang aku sebutkan tadi berada dalam kota tersebut.
            Aku merantau? Iya aku kini sudah meninggalkan negaraku yang begitu istimewa. Banyak orang di dunia ini ingin mengunjunginya, tetapi aku adalah salah seorang yang ingin meninggalkannya. Bukan karena aku tidak menyukai negara terutama London sebagai kota asliku, melainkan aku ingin melepaskan diriku dari semua aktivitas rutin yang sering kutemui di London. Orang berjalan dengan cepat, melakukan pekerjaan, hingga sore hari mereka kembali lagi ke rumah. Ada kalanya aku ingin merasakan suatu perbedaan yang seharusnya memang ada. Kini aku berada di suatu negara yang berada di luar Benua Eropa. Suatu negara di Asia Tenggara dengan kebanyakan penduduknya merupakan ras astronesia.
            Di dalamnya terkenal dengan rumpun Melayu. Bukan sama sekali bukan Malaysia yang terkenal dengan menara petronasnya, tetapi suatu negara yang dulu disebut sebagai Kepulauan Nusantara serta dimana Maluku terkenal sebagai pulau rempah-rempah. Juga negara yang sudah banyak dijajah negara Eropa serta oleh satu-satunya negara di Asia Timur. 
            Indonesia, inilah tempat tinggalku sekarang. Aku berada disini untuk menghabiskan masa pensiunku sebagai seorang dokter bedah. Pada usia 25 tahun aku sudah pensiun, tentu ini terlalu dini. Bukan maksudku untuk menyombongkan diri namun aku adalah salah seorang cerdas, sehingga pada usia muda aku dapat menjadi seorang dokter bedah yang cukup hebat. Hingga pada akhirnya aku mengalami kecelakaan dan melukai pergelangan tanganku, kemudian vonis itu datang dan menyatakan bahwa akan sangat riskan bagiku untuk tetap melanjutkan karierku sebagai seorang dokter bedah. Aku di Inggris sempat menjadi pekerja kantoran, tapi rupanya aku merasa tidak cocok disana. Hingga akhirnya aku memilih untuk pergi meninggalkan Britania Raya dan menetap disini mencari kehidupan baru tanpa harus mengingatkanku tentang kelamnya saat itu disana.
            Oh tentu aku bukan warga asing yang tidak mempunyai izin. Namun aku adalah seorang warga asing yang telah berubah warga kenegaraan menjadi warga negara Indonesia. Memang prosesnya cukup panjang, sehingga aku beberapa kali sempat frustasi dan berniat kembali lagi ke Inggris. Tapi pada akhirnya Tuhan seakan memudahkanku, sehingga seluruh proses itu selesai dengan cukup cepat.
            Negara Indonesia yang kutinggali sekarang ini adalah suatu negara yang mempunyai 13.487 pulau. Tetapi tidak semua pulau disini berpenghuni, karena ada sekitar 6.000 pulau di negara ini yang tidak berpenghuni. Pemerintahan disini juga berbeda, bentuk pemerintahan di Indonesia adalah Presidensial. Dimana presiden mereka dipilih langsung oleh seluruh rakyat Indonesia. Mungkin juga lebih kurang 4 tahun lagi, yaitu tahun 2019 aku menjadi salah satu pemilih karena aku sudah resmi menjadi warga negara disini.
            Oh iya DKI Jakarta adalah ibukota resmi dari negara Indonesia. Salah satu kota metropolitan terbesar di dunia. Bahkan London adalah salah satu yang mengatakan sebagai kota kembar dengan Jakarta. Bisa dibilang seluruh aktivitas pemerintahan, ekonomi, dan lainnya lebih banyak berpusat pada DKI Jakarta. Sehingga banyak sekali orang yang ingin menetap dan mengadu nasib di DKI Jakarta. Tetapi hal tersebut menyebabkan suatu masalah panjang bagi ibu kota, karena dengan banyaknya pendatang masalah urbanisasi menjadi masalah yang sangat besar bagi DKI Jakarta yang berpredikat sebagai kota metropolitan.
            Tentu aku adalah seorang pensiun yang agak tidak suka dengan keadaan ramai juga kepadatan yang terlalu. Maka dari itu aku tidak memilih untuk menetap di ibu kota. Aku menetap di suatu kota yang terbilang sejuk di Indonesia. Karena kota tersebut berada di pertengahan pegunungan yang mengelilinginya serta memang karena cuacanya yang tidak sering terlalu panas, mengingat Indonesia hanya memiliki dua musim. Bahkan kota ini mempunyai lagu nasionalnya sendiri. ‘Halo-Halo Bandung’ Bandung, itulah kota tempatku tinggal sekarang. Suatu kota yang dulu sempat dibakar oleh penduduknya sendiri karena tidak ingin kota Bandung dikuasai oleh Belanda pada saat itu. Sehingga seorang penyair Indonesia, yaitu Ismail Marzuki menciptakan lagu tersebut meski sebenarnya ada perdebatan tentang hal tersebut.
            Untuk saat ini aku hanya menginap di salah satu hotel di Bandung. Tentu aku tidak akan selamanya tinggal di hotel yang terbilang cukup mewah ini. Meski masih terkendala dalam bahasa, aku tetap mencari-cari rumah yang setidaknya bisa untuk kutinggali secara permanen. Karena aku yakin jika tidak dengan cepat aku menemukan rumah tinggal bisa kupastikan mungkin aku dapat menjadi seorang tunawisma.
Mei 2015
            Saat itu merupakan suatu musim penghujan di Indonesia. Terlebih bagi kota Bandung hampir setiap hari Bandung selalu berdampingan dengan hujan yang selalu mengguyurinya. Tetapi aku sudah terbiasa, karena hawa dingin di kota Bandung tak sebanding dengan suhu minus derajat pada saat aku di London dulu.
            Hari ini dengan payung berwarna merahku, aku pergi untuk mencari-cari rumah tinggal yang setidaknya cukup murah. Tak ingin membuang uang banyak dengan menaikki taksi aku menaikki suatu kendaraan yang disebut oleh masyarakat kota Bandung sebagai angkot. Menutup payungku, kemudian aku naik ke dalam mobil angkot. Entahlah aku mau kemana, tapi oleh sang sopir angkot dia akan mengantarku ke tempat yang ingin aku tuju. Warna angkot ini berwarna hijau, di dalamnya ada dua bangku panjang dimana bisa menampung lebih kurang sebanyak dua puluh orang penumpang yang saling berhadap-hadapan. Berdesakkan itulah kondisi jika keadaan mobil angkot ini sudah dalam keadaan penuh. Seperti apa yang aku rasakan sekarang. Satu demi satu penumpang tiba ditujuannya. Hingga akhirnya sang sopir menyuruhku untuk turun di suatu daerah. Aku pun turun di tempat yang dikatakannya, tak lupa aku memberikan uang ongkosku.

How much?” Aku bertanya pada sang sopir.
Sang sopir memberikan isyarat tangannya.
Aku berpikir sejenak. “Five thousand rupiah?”
Dia menganggukkan kepalanya. Lalu aku memberikan selembar uang lima ribu rupiah tadi. Lagi-lagi secara isyarat dia menjelaskan untuk menyuruhku untuk lurus ke depan dan mengatakan alamatnya. “Ah. Nasution Street 193.”
“Ah thank you very much.” Aku tahu maksud dari sang sopir.
Your welcome Mr.” Sungguh aku ingin terbahak dengan bahasa inggris yang dikatakannya. Jujur saja pada saat dia mengucapkannya ada suatu dialek yang menempel disana. Tetapi karena sopan santun aku tidak jadi melakukannya.
            Hujan telah reda, jadi aku hanya melipat payungku. Daerah ini adalah daerah timur dari kota Bandung sepertinya. Mataku terus menelisik dan mencari-cari alamat yang dikatakan oleh sopir angkot tadi. Saat menatap arah  seberangku, disanalah alamat yang sedang aku cari-cari. Aku menyeberang dan akhirnya tiba di depan rumah itu. Tetapi disana aku melihat ada seorang lain yang juga terus menatap rumah itu. Seorang pria yang aku kira seumuran denganku. Pria tersebut cukup tegap, kulitnya putih tapi khas orang Indonesia, hidungnya mancung dengan mata kecil yang terlihat begitu tegas. Dia mengucapkan berbagai kalimat dalam bahasa Indonesia, aku seratus persen yakin bahwa pria ini sedang mengumpat.

“Astaga kenapa harganya mahal sekali. Padahal aku sudah memberi keputusan untuk hanya 80 juta tetapi kenapa dia tetap harus menjual dengan 100 juta, memang sebagus apa rumah ini. Berasitektur khas zaman kolonial? Usianya lebih dari 100 tahun, siapa juga yang ingin membeli rumah setua ini. Kecuali orang seperti aku yang memang harus mempunyainya.”

            Aku terdiam sesaat, saat pria itu mengatakan semua umpatannya. Sebenarnya aku mengerti bahasa Indonesia hanya saja aku sedikit sulit untuk mengucapkannya. Kenapa aku tidak menyadarinya bahwa rumah ini memang berasitektur khas Belanda pada masanya dulu. Apakah mungkin umur 100 tahun rumah ini yang ditebak oleh pria itu benar adanya? Karena aku merasa suatu hal tidak mungkin bahwa orang bisa menebak umur sebuah bangunan.
            Saat aku menatap rumah tersebut secara seksama, entah mengapa aku merasakan suatu hawa dingin. Kepalaku secara refleks menoleh dan melihat pria itu menatapku. Tatapannya tajam dan menusuk, seakan-akan menganggapku sebagai seorang yang sangat berbahaya. Pria ini agak kurang sopan, yang benar saja bola matanya terus bergerak menatapku dari bawah hingga atas. Aku telah bersiap memasang posisi untuk berjaga-jaga jika sampai pria ini melakukan hal ‘lebih’ kurang ajar terhadapku. Tetapi yang aku dapatkan adalah sikap pria ini berubah 180 derajat. Dia menyantaikan dirinya kembali kemudian memberikanku suatu senyuman, senyuman yang kuakui begitu lembut dan berjabat tangan denganku. Aku tidak bisa berpikir dan hanya dapat membalasnya.

“Jika mengobrol di trotoar ini sepertinya kurang sopan, can you follow me?” Jika tadi aku ingin terbahak mendengar kalimat sang sopir angkot. Kali ini aku ingin berteriak luar biasa, karena pengucapan bahasa inggris pria ini sangatlah bagus. Sama sekali tidak terdengar dialek pengucapan daerah di dalamnya.
Aku langsung menjawabnya. “Oh. Sure. Yes, Sir.”

            Tidak jauh dari situ, dia mengajakku untuk mengobrol di suatu toko kelontong. Disana tersedia sebuah bangku. Dan beberapa waktu setelahnya tersedia dua cangkir kopi hangat yang tersaji dihadapan kami berdua. Dia mengeluarkan sebungkus rokok dari kantungnya, kemudian mulai menyalakan lalu menghisap rokok tersebut. Jujur aku agak terganggu karenanya, karena di London bahkan hampir semua orang tidak merokok. Karena pada dasarnya rokok secara perlahan-lahan bisa membunuhmu. Meski tidak akan terasa sekarang, efek jangka panjangnya aku jamin dapat membuat para perokok menyesal. Pria ini sama sekali tidak berbicara, dia hanya menghisap sambil sesekali menyeruput kopinya. Karena keadaanku yang haus dan agak mulai merasa dingin kuminum juga kopiku selagi masih hangat. Sebatang rokok itu akhirnya habis dihisap pria ini. Setelah kembali meminum kopinya, akhirnya pria ini mulai menatapku. Aku yakin dia ingin mengajakku berbicara.

For the first time in the real. Where are you come from. Sir? Maybe England?” Sekali lagi rasanya aku ingin benar-benar kagum dengan pengucapan pria ini yang begitu fasih.
Aku agak terkejut juga dengan tebakannya mengenai negara asalku. “Exactly what you think. I’m from England. Sir.”
My name is Tony P. P for Pratama. And sure i’m from Indonesia.” Pria ini meperkenalkan diri dengan penuh senyuman.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. “Nice to meet you Mr. Pratama. My name is Alex W.F.”
Pria ini membulatkan kedua matanya yang penuh binar dan mengibaskan tangannya seakan mencegahku melakukan sesuatu. “Tony, please.”
“Great to see you Tony.” Entah mengapa aku merasa seakan dapat langsung akrab dengan pria ini.
Dia meneguk habis kopinya. “Me too Alex. But i dont want to speak english with you. Because i know you can understand what i talking in my language, isn’t that?”
Darimana orang ini bisa menebak akan aku dapat mengerti mengenai bahasa Indonesia. Apakah lagi-lagi satu tebakan yang berhasil atau faktor keberuntungan yang memang pria ini miliki? “Yes. Yes i’m understand what are you and other people are talking. But how can you know about this? This is not the first time we met?”
“Can we have the house together?” Bahkan sungguh bukannya menjawab pertanyaanku, pria ini malah membahas mengenai rumah yang ingin kubeli. Aku rasa orang ini memang benar orang yang berbahaya yang aku temui. Atau mungkin dia penguntit yang sejak aku pertama datang ke Indonesia terus mengikutiku. Kesabaranku sudah habis. Sampai kapan pria ini mau mengajakku bermain-main.
Aku menghembuskan nafasku secara kasar. “Oh my. This is a joke, this is a trap. And i’m sure about this.” Aku berdiri dari bangku yang sedari tadi aku dudukki berdua dengannya. Sungguh ini membuatku muak, pertama kalinya dalam hidupku aku tidak ingin lagi bertemu dengan seorang pria, sangat menjengkelkan daripada bertemu dengan sepuluh wanita. Tiba-tiba dia mengenakan jaketnya dan ikut berdiri. Aku sadar bahkan pria ini memiliki tinggi yang melebihiku meski hanya sekitar lima centimeter. Matanya tidak berbinar seperti anak kecil lagi, melainkan suatu ketegasan dan itu sungguh mengintimidasiku.

“Aku tahu kau bisa memahami Bahasa Indonesia. Di sepanjang jalan kau terus melafalkan sebuah kalimat kemudian karena kau melihat tulisan di depan rumah berasitektur kolonial tadi. Alamat yang tertera disana sama sekali tidak menggunakan kata Inggris sedikitpun. ‘Jln’ Hanya sebuah singkatan yang sudah amat dipahami oleh orang pribumi. Dan kau seorang asing sudah bisa mengerti, berarti kau telah belajar keras untuk mempelajari dan memahami bahasa Indonesia. Kata dijual itu akan terlalu mudah yang dalam bahasa Inggris adalah sale. Maka fokusmu hanya pada alamat yang tertera, yaitu ‘Jln’. Untuk apa seorang pria asing membeli sebuah rumah? Aku yakin kau tidak sedang liburan, karena jika hanya untuk itu kau bisa tinggal di hotel. Kau sudah menetap dan secara resmi menjadi warga negara Indonesia. Entah apa yang membuatmu ingin menghabiskan waktumu di Kota Bandung yang sedikit orang kenal. Kau ingin menghabiskan waktumu secara damai di masa pensiunmu. Benar begitu Dr. Alex? Kau sebenarnya bukan kidal, tapi karena ada keterbatasan pada tangan kananmu kau mulai belajar untuk menggunakan tangan kirimu. Pergelangan tangan kananmu terluka dan aku yakin itu yang membuat mu menjadi pensiun dini. Terluka pergelangan tangan akan sangat riskan bagi seorang dokter bedah. Jadi aku berharap kita bisa mempunyai rumah yang cukup mahal ini berdua, karena aku juga ingin menghabiskan waktu sama sepertimu dokter.”

            Bicaranya begitu cepat sehingga aku hanya mampu untuk mendengar ucapan pria ini secara seksama. Aku ingin sekali menyanggahnya tapi ada suatu yang seperti membisikkan padaku untuk tidak menyanggahnya. Aku memang bukan seorang yang kidal, karena luka pada pergelangan tangan kananku membuat tangan kananku tidak bisa melakukan apapun secara maksimal maka dari itu aku melatih tangan kiriku. Ada perasaan takut yang menyeruak dalam dadaku ketika pria ini mulai mendeskripsikan diriku secara detil, meski tak semuanya. “How can did you know?”
            Pria ini hanya mengalihkan pandangannya dariku dan menatap ke arah langit dari luar toko ini. Dia membenarkan jaketnya dan kemudian berjalan sedikit demi sedikit mulai meninggalkanku. “I hope you to come back tomorrow doctor. And I will teach you to speak Indonesian.”
“I need you to answer it. Not your promise.” Aku mengaskan kalimatku.
Pria ini kembali menatap kearahku. “Remember. Come to Ah. Nasution Street 193 tomorrow. Bye-bye.”

            Dia pergi secepat dia datang. Karena setelah beberapa langkah, pria itu menghilang di begitu banyak orang yang berlalu-lalang. Aku mengira di negara seperti ini tidak ada kengerian seperti di London tapi aku harus menemuinya lagi. Oh rupanya pria itu sudah membayar kopiku.  Aku memutuskan untuk kembali ke hotel mengingat percakapan aneh tadi sudah membawaku kepada waktu sore hari.


            Aku kembali menaikki mobil angkot yang sama seperti saat aku berangkat pagi tadi. Karena tidak ingin merasakan berdesakkan, aku memutuskan untuk duduk di kursi sebelah sang sopir. Untuk beberapa saat aku merasa nyaman, namun dengan sangat mudah kenyamanan itu pergi. Sang sopir menyalakan rokoknya dan menghisap rokok tersebut. Masyarakat di negara ini, terlebih para laki-lakinya aku yakin kebanyakan adalah seorang perokok berat. Dalam perjalanan kembali menuju hotelku, si sopir bahkan sudah menghisap 3-5 batang rokok. Aku sungguh merasa lega ketika telah tiba di hotel yang aku tempati. Bersyukurlah karena pada hotel yang aku tempati diberlakukan aturan untuk tidak merokok.
            Hotel Savoy Homann adalah hotel yang kupilih untuk tinggal sementara ini sebelum aku menemukan rumah tinggal. Terletak di Jalan Asia Afrika 112 yang sebelum diganti, alamat ini adalah Jalan Raya Pos. Penamaan Jalan Asia Afrika sekarang tidak terlepas dari Konferensi Asia yang berlangsung antara 18 April-24 April 1955 dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, serta negara imperialis lainnya pada masa itu. Dengan demikian penggantian nama Jalan Raya Pos menjadi Jalan Asia Afrika untuk mengingatkan masyarakat Indonesia, terlebih masyarakat kota Bandung mengenai peristiwa bersejarah tersebut. Meski masih terbilang sebagai negara yang cukup muda, Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki berbagai macam sejarah dunia.
            Pagi ini begitu cerah meski tampak mendung, tidak terlepas dari fakta bahwa pada bulan ini memang sedang terjadi musim penghujan di Indonesia. Dari balkon kamarku aku memandang ke luar. Terlihat lalu lintas kota Bandung yang tergambar dari sana. Kulirik kalender meja, rupanya sudah hampir satu minggu aku tinggal disini. Pasti jika kukalkulasikan pembayaranku jelas tidak akan sedikit jika sampai bertahan sampai dua minggu. Tanpa memakan sarapan yang sudah tersedia, aku segera menyambar jaketku dan pergi meninggalkan hotel.
            Dengan menaikki mobil angkot kemarin aku pergi untuk kembali mencari rumah yang bisa permanen aku tinggali. Ah Nasution Street 193. Secara refleks aku selalu mengingat alamat itu. Bila kugambarkan sepanjang perjalanan menuju alamat tersebut, melewati beberapa rumah toko atau orang pribumi menyebutnya sebagai ruko. Melewati perlintasan kereta api, juga tiga pasar tradisional. Hanya saja penataan pasar yang tidak seimbang membuat terganggunya lalu-lintas yang ada. Setelah memberikan uang ongkos, aku menuju rumah yang pada saat itu.
            Sayang sekali nampaknya rumah ini sudah ada seseorang yang membelinya. Pagar hijaunya sudah terbuka, serta pintunya yang terlihat sedikit terbuka. Langsung terlintas dipikiranku bahwa pria itu yang sudah membeli rumah ini secara utuh. Tetapi dia selalu menginginkan harga rumah ini 80 juta, apakah mungkin pria itu berubah pikiran?
            Saat aku akan hendak akan kembali seseorang menepuk pundakku dengan pelan. Aku langsung mencengkeram tangan orang tersebut dan membalikkan tubuhku. Berjaga-jaga adalah hal yang sangat dipentingkan bagiku karena disini aku hidup seorang diri. Betapa terkejutnya aku saat menatap orang yang tangannya sedang kucengkeram erat. Ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan, dia terlihat begitu santai. Ketika aku menatap mata pria ini –orang yang kucengkeram- tiba-tiba saja aku merasa harus melepaskan cengkeramanku. Secara perlahan-lahan aku melepasnya. “Hello Dr. Alex. You come?”
            Pria bertubuh jangkung ini malah menyapaku dengan begitu ramah. “But I come not for the house or  for you.”
“No. No. Of course  you come for the house, because you need it before you run out of money doctor.” Sekali lagi dia bisa menebak bagaiman keadaanku. Aku ingin membantahnya tapi karena kekagumanku terhadap pelafalan bahasa Inggrisnya yang begitu baik, aku hanya bisa diam sebagai jawaban.
            Mata pria ini berbinar-binar seperti seekor anak anjing yang begitu bersemangat sambil menatapku. Lalu menjabat tanganku dengan begitu semangat. “Ah I remember. Sorry doctor I don’t want to speak English with you. Harga 100 juta tidak akan masalah lagi bagiku. Karena kita akan berbagi 50 : 50 dokter. Kau juga tidak perlu khawatir untuk bekal hidupmu ke depan. Tentu saja aku sudah mengatakan pada Ibu Erma tentang kita yang membeli rumah ini berdua.” Saat pria ini menjelaskan, raut kegembiraannya begitu sangat jelas. Seakan-akan sudah menemukan harta karun yang sangat besar dan berjumlah banyak. Tidak lama kemudian muncul seorang wanita berumuran 40 tahun keluar dari rumah tersebut dan menjabat tanganku.
“Welcome Mr. Alex. I hope you like this house.” Pengucapannya cukup baik meski masih ada sedikit dialek daerah yang terletak disana. Ibu Erma terlihat cukup cantik diumurnya yang menginjak kepala empat. Tubuhnya agak tambun, namun karena wajahnya yang cantik menghilangkan kekurangan tersebut. Akhirnya, aku dan pria ini masuk ke dalam rumah.
            Rumah ini memang sudah tidak lama ditinggali sepertinya. Meski demikian Ibu Erma sudah berhasil menjaga dan memberishkan rumah ini. Sehingga keadaannya nampak rapi dan bersih. Aku duduk di sofa yang tersedia di dalam, cukup nyaman meski sofa ini sudah tidak zaman pada masa sekarang. Si jangkung yang kukenal beberapa saat juga ikut duduk di depanku. Dia menyeruput teh yang disajikan oleh Ibu Erma.
            Aku menatap sekeliling rumah ini, setidaknya ini memang rumah yang lulus dari kualifikasiku. “So, are you sure I want to buy this house? Even staying with you?” Pria ini menyilangkan kakinya dan menaruh teh yang tadi diminumnya. Sinar matanya menatapku dengan penuh ketegasan. “Tentu bukan aku yang yakin dokter, karena kau sendirilah yang yakin untuk membeli rumah ini. Also do not mind to stay with me.”
Pertengahan Juli 2015
            Jalan Ah Nasution merupakan suatu kawasan dari kota Bandung, yang tepatnya berada di lokasi Bandung Timur. Suasana disini tidak terlalu ramai seperti saat aku tinggal di hotel dulu. Di depan rumah yang kutinggali adalah jalan raya besar yang berbasis dua arah, dimana di seberang dari rumah ini ada sebuah toko kaos yang menyediakan berbagai macam kaos. Tidak banyak gedung tinggi yang menjulang, sepanjang jalan ini hanya ditempati oleh rumah-rumah yang berjejer secara lurus, dengan jarak 4-5 rumah ada sebuah minimarket yang terselip disana. Aku lebih suka menyebutnya sebagai sebuah desa daripada kota, karena keadaan disini cukup tenang.
            Pada akhirnya rumah yang beralamat Jalan Ah. Nasution 193 ini menjadi tempat tinggalku. Garis bawahi bukan hanya aku yang tinggal disini, tapi teman serumahku yaitu Tony. Seseorang yang sangat berubah-ubah, dan orang yang sangat sulit untuk ditebak. Sudah hampir dua bulan aku dan Tony menempati rumah ini secara bersama-sama. Namun sudah hampir satu bulan Tony tidak berada di rumah ini. Bukan sama sekali bukan karena dia pindah, Tony sering pulang juga. Hanya saja kepulangannya adalah saat malam begitu larut dan selalu pergi saat aku sudah terbangun. Tony temanku –setidaknya teman pertamku di Indonesia- dia selalu tidak punya waktu untuk bicara selama satu bulan ini. Kata yang sering keluar darinya hanyalah ya atau tidak, selebihnya tidak ada lagi.
            Saat itu aku tengah duduk di meja makan sambil membaca koran untuk melihat-lihat apakah ada lowongan pekerjaan untuk ku tempati. Bersyukurlah diriku, karena satu bulan sebelum Tony terlalu sibuk seperti sekarang dia sudah membuatku lancar berbicara bahasa Indonesia, ya meski kuakui dialek ‘Kebule-bulean’ yang sering dikatakannya padaku masih melekat. Entah mengapa sepanjang hari tersebut Tony tidak pergi kemana-mana. Dia hanya duduk sambil menghabiskan waktunya membaca-baca buku yang begitu tebal. Aku jamin standar tebal buku bacaan yang selalu Tony baca adalah minimal 500 lembar. Tony menutup buku bacaannya dan ikut duduk bersamku.
            Tony memakan camilan yang kemarin aku beli. Dia melirikku sesaat sambil mengunyah. “Mencari lowongan?”
Aku menjawab tanpa memperhatikannya. “Pekerjaan, itu lebih tepatnya.”
Tony terkekeh mendengar jawabanku. Aku agak tersinggung karena sikapnya. Kurasa dalam jawabanku sama sekali tidak ada kata-kata lucu yang terselip dan dialek ‘Kebule-buleanku’ juga berkurang. Aku memberikannya tatapan kesalku. “Oh Come on Alex. Pekerjaan itu tidak perlu dicari. Jika kau lihat membereskan tempat tidurmu saja sudah menjadi pekerjaan. Ayolah setidaknya kalimatmu itu harus lebih spesifik ‘Mencari uang.’ Itu yang harusnya kau katakan. Walau sebenarnya uang tak berarti segalanya.”
“Kau ini adalah satu-satunya manusia yang sangat betah dengan keadaan menganggurmu.” Aku tidak peduli bila kalimatku akan menyinggung perasaannya. Aku rasa Tony sudah keterlaluan sekarang.  Namun respon yang kudapat adalah sikapnya yang begitu tenang. Dia menyatukan kedua tangannya seakan mau menjelaskan sesuatu kepadaku. “Kau berasal dari Inggris, kau ingat aku mengatakan itu saat pertama kali kita bertemu? Itu bukan tebakan itu hanya hasil pembacaan yang aku buat. Ketika hujan saat itu kau mengenakan pakaian sebanyak tiga lapis, sementara orang pribumi sepertiku hanya mengenakan cukup dua lapis. Tapi kau berbeda, orang Inggris selalu mengenakan 2-3 lapis pakaian. Ayolah ini hanya negara dengan dua musim tidak akan mungkin akan sedingin itu. Payungmu adalah payung panjang dengan warna merah polos tanpa motif, bukan payung lipat yang sering digunakan disini kau lebih mencolok dari yang lain. Selain itu karena bahasa Inggrismu lebih kepada Inggris UK dari pada US.”
Aku melipat koranku yang belum habis kubaca. “Kau bukan penguntit ternyata.”
“Semua hal bisa dibaca temanku Alex, bahkan sekalipun yang bersifat sulit. Pada saat kau didepanku lah aku mulai membacamu Alex temanku.” Pernyataannya sedikit sulit untuk aku terima, karena apakah membaca adala semudah itu? Terlebih membaca situasi dan keadaan seseorang. “Aku rasa bukan karena membaca saja Tony. Ada faktor lainnya juga.”
Tony tersenyum dan bertepuk tangan dengan kalimat penolakanku. Seseorang yang begitu bahagia karena ada yang menolak teorinya, aku rasa hanya Tony. “Benar sekali katamu temanku Alex, tentu ada faktor lain yang mendukungnya. Pengetahuan. Tentu saja pengetahuan bisa mendukung apapun di dunia ini sekalipun itu hal yang jahat.”
            Tony mengatakan pengetahuan. Kalau begitu dia pasti adalah seorang jenius. Dengan banyaknya pengetahuan yang dia milikki, dia dapat menggabungkan benang-benang dari apa yang dirinya baca. Lalu apakah sebenarnya pekerjaan yang dimiliki oleh temanku Tony. Aku tidak melihat dirinya seperti pegawai kantor, pegawai swasta, seorang pengusaha atau lainnya. Bisa jadi dia adalah seorang ilmuwan yang ada di Indonesia. Dia tahu semua bidang ilmu, hanya saja dia tidak pernah terlihat menyukai salah satu dari semua ilmu yang dia kuasai.
“Oh kediamanmu meyakinkanku bahwa kau sangat ingin tahu apa pekerjaanku, Alex.” Tony menyadarkanku dari lamunan yang kubuat tadi. Benar yang dikatakannya untuk pertama kali dalam seumur hidupku aku ingin sangat tahu pekerjaan yang dimilikki oleh orang lain, terlebih Tony. “Aku bingung Tony. Kau adalah seorang pengangguran, aku tidak akan minta maaf untuk itu. Tapi selama hampir satu bulan penuh kau seperti orang yang sangat sibuk. Bahkan tidak punya waktu untuk sekedar makan. Kau terus diam, yang jujur saja aku merasa kau marah padaku pada waktu itu.”
“Temanku yang baik Alex. Maafkan bila sikapku pada waktu kemarin-kemarin telah menyinggungmu. Hanya saja aku perlu berkonsentrasi dalam pekerjaan. Maafkan aku lagi Alex, karena kau harus menarik kembali ucapanmu kepadaku sebagai seorang pengangguran. Karena pada dasarnya aku memilikki sebuah pekerjaan yang tak banyak orang tahu. Metodeku merupakan alatku dalam bekerja.”
            Dia bekerja dengan sebuah metode. Ilmuwan memang benar merupakan sebuah pendekatan yang tepat untuk pengungkapannya tadi. “Aku rasa aku bisa tahu apa pekerjaanmu Tony.”
            Tony tidak menjawabku, pandangannya hanya terfokus pada telepon genggamnya. Sepertinya ada seseorang yang mengiriminya pesan. Pesan itu tampaknya sangat misterius, karena Tony terus memperhatikannya dengan seksama. Dia menyambar jaketnya dan bersiap seperti akan pergi. “Well, Alex untuk meyakinkanmu mengenai jawabanmu bisakah kau ikut bersamaku kali ini. Tentu aku akan sangat tersanjung bila kau menerima ajakanku.” Tony beranjak turun dari kamar dan menungguku di luar rumah. Saat aku bersiap, untuk pertama kalinya setelah aku pindah akhirnya ibuku meneleponku.

“Oh dear. I’m worried. Finally we can contact you.” Terdengar jelas sekali bahwa ibuku begitu mengkhawatirkanku. Akhir-akhir ini aku memang jarang memberikan mereka kabar. “I’m sorry mom.”
“What happen in Bandung?” Ibuku terus menanyakan hal-hal yang memang membuatnya khawatir.
Aku menatap ke arah bawah, dimana disana masih terlihat Tony berdiri untuk menungguku. “Nothing mom. But something special in here and something different that is so much fun. I call you later mom. I love you.”
            Aku menutup sambungan teleponku. Kemudian menuruni kamarku menuju pintu keluar rumah. Tony menggelengkan kepalanya malas. “Oh cepatlah Alex orang itu sangat tidak suka keterlambatan.” Bersamaan itu aku dan Tony pergi meninggalkan rumah dan dari sinilah aku akan tahu siapakah Tony.P











End of chapter I
Written by : Dewi Andriani

08 mei 2015

0 komentar :

Posting Komentar