‘Inspired by Sir Arthur Conan Doyle’
Namaku
Alex W.F dan aku adalah seorang perantau dari suatu negeri yang berada di Benua
Eropa. Negeri yang dimana terkenal akan liga sepak bola, jam besar Big Ben yang begitu dikagumi oleh hampir
semua orang di dunia ini. Suatu negara yang masih menganut pemerintahan
monarki, dimana kini Ratu Elisabeth II adalah penguasa tertinggi di negeri
Britania Raya.
Kota
London merupakan kota kelahiranku sekitar dua puluh lima tahun yang lalu. Suatu
kota metropolitan dan merupakan pusat ekonomi Inggris hingga saat ini. Dimana Big Ben yang aku sebutkan tadi berada
dalam kota tersebut.
Aku
merantau? Iya aku kini sudah meninggalkan negaraku yang begitu istimewa. Banyak
orang di dunia ini ingin mengunjunginya, tetapi aku adalah salah seorang yang
ingin meninggalkannya. Bukan karena aku tidak menyukai negara terutama London
sebagai kota asliku, melainkan aku ingin melepaskan diriku dari semua aktivitas
rutin yang sering kutemui di London. Orang berjalan dengan cepat, melakukan
pekerjaan, hingga sore hari mereka kembali lagi ke rumah. Ada kalanya aku ingin
merasakan suatu perbedaan yang seharusnya memang ada. Kini aku berada di suatu
negara yang berada di luar Benua Eropa. Suatu negara di Asia Tenggara dengan
kebanyakan penduduknya merupakan ras astronesia.
Di
dalamnya terkenal dengan rumpun Melayu. Bukan sama sekali bukan Malaysia yang
terkenal dengan menara petronasnya, tetapi suatu negara yang dulu disebut
sebagai Kepulauan Nusantara serta dimana Maluku terkenal sebagai pulau
rempah-rempah. Juga negara yang sudah banyak dijajah negara Eropa serta oleh
satu-satunya negara di Asia Timur.
Indonesia,
inilah tempat tinggalku sekarang. Aku berada disini untuk menghabiskan masa pensiunku
sebagai seorang dokter bedah. Pada usia 25 tahun aku sudah pensiun, tentu ini
terlalu dini. Bukan maksudku untuk menyombongkan diri namun aku adalah salah
seorang cerdas, sehingga pada usia muda aku dapat menjadi seorang dokter bedah
yang cukup hebat. Hingga pada akhirnya aku mengalami kecelakaan dan melukai
pergelangan tanganku, kemudian vonis itu datang dan menyatakan bahwa akan
sangat riskan bagiku untuk tetap melanjutkan karierku sebagai seorang dokter
bedah. Aku di Inggris sempat menjadi pekerja kantoran, tapi rupanya aku merasa
tidak cocok disana. Hingga akhirnya aku memilih untuk pergi meninggalkan
Britania Raya dan menetap disini mencari kehidupan baru tanpa harus
mengingatkanku tentang kelamnya saat itu disana.
Oh
tentu aku bukan warga asing yang tidak mempunyai izin. Namun aku adalah seorang
warga asing yang telah berubah warga kenegaraan menjadi warga negara Indonesia.
Memang prosesnya cukup panjang, sehingga aku beberapa kali sempat frustasi dan
berniat kembali lagi ke Inggris. Tapi pada akhirnya Tuhan seakan memudahkanku,
sehingga seluruh proses itu selesai dengan cukup cepat.
Negara
Indonesia yang kutinggali sekarang ini adalah suatu negara yang mempunyai
13.487 pulau. Tetapi tidak semua pulau disini berpenghuni, karena ada sekitar 6.000
pulau di negara ini yang tidak berpenghuni. Pemerintahan disini juga berbeda,
bentuk pemerintahan di Indonesia adalah Presidensial. Dimana presiden mereka
dipilih langsung oleh seluruh rakyat Indonesia. Mungkin juga lebih kurang 4
tahun lagi, yaitu tahun 2019 aku menjadi salah satu pemilih karena aku sudah
resmi menjadi warga negara disini.
Oh
iya DKI Jakarta adalah ibukota resmi dari negara Indonesia. Salah satu kota
metropolitan terbesar di dunia. Bahkan London adalah salah satu yang mengatakan
sebagai kota kembar dengan Jakarta. Bisa dibilang seluruh aktivitas
pemerintahan, ekonomi, dan lainnya lebih banyak berpusat pada DKI Jakarta.
Sehingga banyak sekali orang yang ingin menetap dan mengadu nasib di DKI
Jakarta. Tetapi hal tersebut menyebabkan suatu masalah panjang bagi ibu kota,
karena dengan banyaknya pendatang masalah urbanisasi menjadi masalah yang
sangat besar bagi DKI Jakarta yang berpredikat sebagai kota metropolitan.
Tentu
aku adalah seorang pensiun yang agak tidak suka dengan keadaan ramai juga
kepadatan yang terlalu. Maka dari itu aku tidak memilih untuk menetap di ibu
kota. Aku menetap di suatu kota yang terbilang sejuk di Indonesia. Karena kota
tersebut berada di pertengahan pegunungan yang mengelilinginya serta memang
karena cuacanya yang tidak sering terlalu panas, mengingat Indonesia hanya
memiliki dua musim. Bahkan kota ini mempunyai lagu nasionalnya sendiri.
‘Halo-Halo Bandung’ Bandung, itulah kota tempatku tinggal sekarang. Suatu kota
yang dulu sempat dibakar oleh penduduknya sendiri karena tidak ingin kota
Bandung dikuasai oleh Belanda pada saat itu. Sehingga seorang penyair
Indonesia, yaitu Ismail Marzuki menciptakan lagu tersebut meski sebenarnya ada
perdebatan tentang hal tersebut.
Untuk
saat ini aku hanya menginap di salah satu hotel di Bandung. Tentu aku tidak
akan selamanya tinggal di hotel yang terbilang cukup mewah ini. Meski masih
terkendala dalam bahasa, aku tetap mencari-cari rumah yang setidaknya bisa
untuk kutinggali secara permanen. Karena aku yakin jika tidak dengan cepat aku
menemukan rumah tinggal bisa kupastikan mungkin aku dapat menjadi seorang
tunawisma.
Mei
2015
Saat
itu merupakan suatu musim penghujan di Indonesia. Terlebih bagi kota Bandung
hampir setiap hari Bandung selalu berdampingan dengan hujan yang selalu
mengguyurinya. Tetapi aku sudah terbiasa, karena hawa dingin di kota Bandung
tak sebanding dengan suhu minus derajat pada saat aku di London dulu.
Hari
ini dengan payung berwarna merahku, aku pergi untuk mencari-cari rumah tinggal
yang setidaknya cukup murah. Tak ingin membuang uang banyak dengan menaikki
taksi aku menaikki suatu kendaraan yang disebut oleh masyarakat kota Bandung
sebagai angkot. Menutup payungku, kemudian aku naik ke dalam mobil angkot. Entahlah
aku mau kemana, tapi oleh sang sopir angkot dia akan mengantarku ke tempat yang
ingin aku tuju. Warna angkot ini berwarna hijau, di dalamnya ada dua bangku
panjang dimana bisa menampung lebih kurang sebanyak dua puluh orang penumpang
yang saling berhadap-hadapan. Berdesakkan itulah kondisi jika keadaan mobil
angkot ini sudah dalam keadaan penuh. Seperti apa yang aku rasakan sekarang.
Satu demi satu penumpang tiba ditujuannya. Hingga akhirnya sang sopir
menyuruhku untuk turun di suatu daerah. Aku pun turun di tempat yang dikatakannya,
tak lupa aku memberikan uang ongkosku.
“How
much?” Aku bertanya pada sang sopir.
Sang sopir memberikan isyarat tangannya.
Aku berpikir sejenak. “Five thousand rupiah?”
Dia menganggukkan kepalanya. Lalu aku
memberikan selembar uang lima ribu rupiah tadi. Lagi-lagi secara isyarat dia
menjelaskan untuk menyuruhku untuk lurus ke depan dan mengatakan alamatnya.
“Ah. Nasution Street 193.”
“Ah thank
you very much.” Aku tahu maksud dari sang sopir.
“Your
welcome Mr.” Sungguh aku ingin terbahak dengan bahasa inggris yang
dikatakannya. Jujur saja pada saat dia mengucapkannya ada suatu dialek yang
menempel disana. Tetapi karena sopan santun aku tidak jadi melakukannya.
Hujan
telah reda, jadi aku hanya melipat payungku. Daerah ini adalah daerah timur
dari kota Bandung sepertinya. Mataku terus menelisik dan mencari-cari alamat
yang dikatakan oleh sopir angkot tadi. Saat menatap arah seberangku, disanalah alamat yang sedang aku
cari-cari. Aku menyeberang dan akhirnya tiba di depan rumah itu. Tetapi disana
aku melihat ada seorang lain yang juga terus menatap rumah itu. Seorang pria
yang aku kira seumuran denganku. Pria tersebut cukup tegap, kulitnya putih tapi
khas orang Indonesia, hidungnya mancung dengan mata kecil yang terlihat begitu
tegas. Dia mengucapkan berbagai kalimat dalam bahasa Indonesia, aku seratus
persen yakin bahwa pria ini sedang mengumpat.
“Astaga kenapa harganya mahal sekali.
Padahal aku sudah memberi keputusan untuk hanya 80 juta tetapi kenapa dia tetap
harus menjual dengan 100 juta, memang sebagus apa rumah ini. Berasitektur khas
zaman kolonial? Usianya lebih dari 100 tahun, siapa juga yang ingin membeli
rumah setua ini. Kecuali orang seperti aku yang memang harus mempunyainya.”
Aku
terdiam sesaat, saat pria itu mengatakan semua umpatannya. Sebenarnya aku
mengerti bahasa Indonesia hanya saja aku sedikit sulit untuk mengucapkannya. Kenapa
aku tidak menyadarinya bahwa rumah ini memang berasitektur khas Belanda pada
masanya dulu. Apakah mungkin umur 100 tahun rumah ini yang ditebak oleh pria
itu benar adanya? Karena aku merasa suatu hal tidak mungkin bahwa orang bisa
menebak umur sebuah bangunan.
Saat
aku menatap rumah tersebut secara seksama, entah mengapa aku merasakan suatu
hawa dingin. Kepalaku secara refleks menoleh dan melihat pria itu menatapku.
Tatapannya tajam dan menusuk, seakan-akan menganggapku sebagai seorang yang
sangat berbahaya. Pria ini agak kurang sopan, yang benar saja bola matanya
terus bergerak menatapku dari bawah hingga atas. Aku telah bersiap memasang
posisi untuk berjaga-jaga jika sampai pria ini melakukan hal ‘lebih’ kurang
ajar terhadapku. Tetapi yang aku dapatkan adalah sikap pria ini berubah 180
derajat. Dia menyantaikan dirinya kembali kemudian memberikanku suatu senyuman,
senyuman yang kuakui begitu lembut dan berjabat tangan denganku. Aku tidak bisa
berpikir dan hanya dapat membalasnya.
“Jika mengobrol di trotoar ini
sepertinya kurang sopan, can you follow
me?” Jika tadi aku ingin terbahak mendengar kalimat sang sopir angkot. Kali
ini aku ingin berteriak luar biasa, karena pengucapan bahasa inggris pria ini
sangatlah bagus. Sama sekali tidak terdengar dialek pengucapan daerah di
dalamnya.
Aku langsung menjawabnya. “Oh. Sure. Yes, Sir.”
Tidak
jauh dari situ, dia mengajakku untuk mengobrol di suatu toko kelontong. Disana
tersedia sebuah bangku. Dan beberapa waktu setelahnya tersedia dua cangkir kopi
hangat yang tersaji dihadapan kami berdua. Dia mengeluarkan sebungkus rokok
dari kantungnya, kemudian mulai menyalakan lalu menghisap rokok tersebut. Jujur
aku agak terganggu karenanya, karena di London bahkan hampir semua orang tidak
merokok. Karena pada dasarnya rokok secara perlahan-lahan bisa membunuhmu.
Meski tidak akan terasa sekarang, efek jangka panjangnya aku jamin dapat
membuat para perokok menyesal. Pria ini sama sekali tidak berbicara, dia hanya
menghisap sambil sesekali menyeruput kopinya. Karena keadaanku yang haus dan
agak mulai merasa dingin kuminum juga kopiku selagi masih hangat. Sebatang
rokok itu akhirnya habis dihisap pria ini. Setelah kembali meminum kopinya,
akhirnya pria ini mulai menatapku. Aku yakin dia ingin mengajakku berbicara.
“For
the first time in the real. Where are you come from. Sir? Maybe England?”
Sekali lagi rasanya aku ingin benar-benar kagum dengan pengucapan pria ini yang
begitu fasih.
Aku agak terkejut juga dengan tebakannya
mengenai negara asalku. “Exactly what you
think. I’m from England. Sir.”
“My
name is Tony P. P for Pratama. And sure i’m from Indonesia.” Pria ini
meperkenalkan diri dengan penuh senyuman.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. “Nice to meet you Mr. Pratama. My name is
Alex W.F.”
Pria ini membulatkan kedua matanya yang
penuh binar dan mengibaskan tangannya seakan mencegahku melakukan sesuatu. “Tony, please.”
“Great
to see you Tony.” Entah mengapa aku merasa seakan dapat
langsung akrab dengan pria ini.
Dia meneguk habis kopinya. “Me too Alex. But i dont want to speak
english with you. Because i know you can understand what i talking in my
language, isn’t that?”
Darimana orang ini bisa menebak akan aku
dapat mengerti mengenai bahasa Indonesia. Apakah lagi-lagi satu tebakan yang
berhasil atau faktor keberuntungan yang memang pria ini miliki? “Yes. Yes i’m understand what are you and
other people are talking. But how can you know about this? This is not the
first time we met?”
“Can
we have the house together?” Bahkan sungguh
bukannya menjawab pertanyaanku, pria ini malah membahas mengenai rumah yang
ingin kubeli. Aku rasa orang ini memang benar orang yang berbahaya yang aku
temui. Atau mungkin dia penguntit yang sejak aku pertama datang ke Indonesia
terus mengikutiku. Kesabaranku sudah habis. Sampai kapan pria ini mau
mengajakku bermain-main.
Aku menghembuskan nafasku secara kasar. “Oh my. This is a joke, this is a trap. And
i’m sure about this.” Aku berdiri dari bangku yang sedari tadi aku dudukki
berdua dengannya. Sungguh ini membuatku muak, pertama kalinya dalam hidupku aku
tidak ingin lagi bertemu dengan seorang pria, sangat menjengkelkan daripada
bertemu dengan sepuluh wanita. Tiba-tiba dia mengenakan jaketnya dan ikut
berdiri. Aku sadar bahkan pria ini memiliki tinggi yang melebihiku meski hanya
sekitar lima centimeter. Matanya tidak
berbinar seperti anak kecil lagi, melainkan suatu ketegasan dan itu sungguh
mengintimidasiku.
“Aku tahu kau bisa memahami Bahasa
Indonesia. Di sepanjang jalan kau terus melafalkan sebuah kalimat kemudian
karena kau melihat tulisan di depan rumah berasitektur kolonial tadi. Alamat
yang tertera disana sama sekali tidak menggunakan kata Inggris sedikitpun.
‘Jln’ Hanya sebuah singkatan yang sudah amat dipahami oleh orang pribumi. Dan
kau seorang asing sudah bisa mengerti, berarti kau telah belajar keras untuk
mempelajari dan memahami bahasa Indonesia. Kata dijual itu akan terlalu mudah
yang dalam bahasa Inggris adalah sale.
Maka fokusmu hanya pada alamat yang tertera, yaitu ‘Jln’. Untuk apa seorang
pria asing membeli sebuah rumah? Aku yakin kau tidak sedang liburan, karena
jika hanya untuk itu kau bisa tinggal di hotel. Kau sudah menetap dan secara
resmi menjadi warga negara Indonesia. Entah apa yang membuatmu ingin
menghabiskan waktumu di Kota Bandung yang sedikit orang kenal. Kau ingin
menghabiskan waktumu secara damai di masa pensiunmu. Benar begitu Dr. Alex? Kau
sebenarnya bukan kidal, tapi karena ada keterbatasan pada tangan kananmu kau
mulai belajar untuk menggunakan tangan kirimu. Pergelangan tangan kananmu
terluka dan aku yakin itu yang membuat mu menjadi pensiun dini. Terluka
pergelangan tangan akan sangat riskan bagi seorang dokter bedah. Jadi aku
berharap kita bisa mempunyai rumah yang cukup mahal ini berdua, karena aku juga
ingin menghabiskan waktu sama sepertimu dokter.”
Bicaranya
begitu cepat sehingga aku hanya mampu untuk mendengar ucapan pria ini secara
seksama. Aku ingin sekali menyanggahnya tapi ada suatu yang seperti membisikkan
padaku untuk tidak menyanggahnya. Aku memang bukan seorang yang kidal, karena
luka pada pergelangan tangan kananku membuat tangan kananku tidak bisa
melakukan apapun secara maksimal maka dari itu aku melatih tangan kiriku. Ada
perasaan takut yang menyeruak dalam dadaku ketika pria ini mulai
mendeskripsikan diriku secara detil, meski tak semuanya. “How can did you know?”
Pria
ini hanya mengalihkan pandangannya dariku dan menatap ke arah langit dari luar
toko ini. Dia membenarkan jaketnya dan kemudian berjalan sedikit demi sedikit
mulai meninggalkanku. “I hope you to come
back tomorrow doctor. And I will teach you to speak Indonesian.”
“I
need you to answer it. Not your promise.” Aku mengaskan kalimatku.
Pria ini kembali menatap kearahku. “Remember. Come to Ah. Nasution Street 193
tomorrow. Bye-bye.”
Dia
pergi secepat dia datang. Karena setelah beberapa langkah, pria itu menghilang
di begitu banyak orang yang berlalu-lalang. Aku mengira di negara seperti ini
tidak ada kengerian seperti di London tapi aku harus menemuinya lagi. Oh
rupanya pria itu sudah membayar kopiku.
Aku memutuskan untuk kembali ke hotel mengingat percakapan aneh tadi
sudah membawaku kepada waktu sore hari.
Aku
kembali menaikki mobil angkot yang sama seperti saat aku berangkat pagi tadi.
Karena tidak ingin merasakan berdesakkan, aku memutuskan untuk duduk di kursi
sebelah sang sopir. Untuk beberapa saat aku merasa nyaman, namun dengan sangat
mudah kenyamanan itu pergi. Sang sopir menyalakan rokoknya dan menghisap rokok
tersebut. Masyarakat di negara ini, terlebih para laki-lakinya aku yakin
kebanyakan adalah seorang perokok berat. Dalam perjalanan kembali menuju
hotelku, si sopir bahkan sudah menghisap 3-5 batang rokok. Aku sungguh merasa
lega ketika telah tiba di hotel yang aku tempati. Bersyukurlah karena pada
hotel yang aku tempati diberlakukan aturan untuk tidak merokok.
Hotel
Savoy Homann adalah hotel yang kupilih untuk tinggal sementara ini sebelum aku
menemukan rumah tinggal. Terletak di Jalan Asia Afrika 112 yang sebelum
diganti, alamat ini adalah Jalan Raya Pos. Penamaan Jalan Asia Afrika sekarang
tidak terlepas dari Konferensi Asia yang berlangsung antara 18 April-24 April
1955 dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika
dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet,
serta negara imperialis lainnya pada masa itu. Dengan demikian penggantian nama
Jalan Raya Pos menjadi Jalan Asia Afrika untuk mengingatkan masyarakat
Indonesia, terlebih masyarakat kota Bandung mengenai peristiwa bersejarah
tersebut. Meski masih terbilang sebagai negara yang cukup muda, Indonesia adalah
sebuah negara yang memiliki berbagai macam sejarah dunia.
Pagi
ini begitu cerah meski tampak mendung, tidak terlepas dari fakta bahwa pada
bulan ini memang sedang terjadi musim penghujan di Indonesia. Dari balkon
kamarku aku memandang ke luar. Terlihat lalu lintas kota Bandung yang tergambar
dari sana. Kulirik kalender meja, rupanya sudah hampir satu minggu aku tinggal
disini. Pasti jika kukalkulasikan pembayaranku jelas tidak akan sedikit jika
sampai bertahan sampai dua minggu. Tanpa memakan sarapan yang sudah tersedia,
aku segera menyambar jaketku dan pergi meninggalkan hotel.
Dengan
menaikki mobil angkot kemarin aku pergi untuk kembali mencari rumah yang bisa
permanen aku tinggali. Ah Nasution Street
193. Secara refleks aku selalu mengingat alamat itu. Bila kugambarkan
sepanjang perjalanan menuju alamat tersebut, melewati beberapa rumah toko atau
orang pribumi menyebutnya sebagai ruko. Melewati perlintasan kereta api, juga
tiga pasar tradisional. Hanya saja penataan pasar yang tidak seimbang membuat
terganggunya lalu-lintas yang ada. Setelah memberikan uang ongkos, aku menuju
rumah yang pada saat itu.
Sayang
sekali nampaknya rumah ini sudah ada seseorang yang membelinya. Pagar hijaunya
sudah terbuka, serta pintunya yang terlihat sedikit terbuka. Langsung terlintas
dipikiranku bahwa pria itu yang sudah membeli rumah ini secara utuh. Tetapi dia
selalu menginginkan harga rumah ini 80 juta, apakah mungkin pria itu berubah
pikiran?
Saat
aku akan hendak akan kembali seseorang menepuk pundakku dengan pelan. Aku
langsung mencengkeram tangan orang tersebut dan membalikkan tubuhku.
Berjaga-jaga adalah hal yang sangat dipentingkan bagiku karena disini aku hidup
seorang diri. Betapa terkejutnya aku saat menatap orang yang tangannya sedang
kucengkeram erat. Ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan, dia
terlihat begitu santai. Ketika aku menatap mata pria ini –orang yang
kucengkeram- tiba-tiba saja aku merasa harus melepaskan cengkeramanku. Secara
perlahan-lahan aku melepasnya. “Hello Dr.
Alex. You come?”
Pria
bertubuh jangkung ini malah menyapaku dengan begitu ramah. “But I come not for the house or for you.”
“No.
No. Of course you come for the house,
because you need it before you run out of money doctor.”
Sekali lagi dia bisa menebak bagaiman keadaanku. Aku ingin membantahnya tapi
karena kekagumanku terhadap pelafalan bahasa Inggrisnya yang begitu baik, aku
hanya bisa diam sebagai jawaban.
Mata
pria ini berbinar-binar seperti seekor anak anjing yang begitu bersemangat
sambil menatapku. Lalu menjabat tanganku dengan begitu semangat. “Ah I remember. Sorry doctor I don’t want to
speak English with you. Harga 100 juta tidak akan masalah lagi bagiku.
Karena kita akan berbagi 50 : 50 dokter. Kau juga tidak perlu khawatir untuk
bekal hidupmu ke depan. Tentu saja aku sudah mengatakan pada Ibu Erma tentang
kita yang membeli rumah ini berdua.” Saat pria ini menjelaskan, raut
kegembiraannya begitu sangat jelas. Seakan-akan sudah menemukan harta karun
yang sangat besar dan berjumlah banyak. Tidak lama kemudian muncul seorang
wanita berumuran 40 tahun keluar dari rumah tersebut dan menjabat tanganku.
“Welcome
Mr. Alex. I hope you like this house.” Pengucapannya cukup
baik meski masih ada sedikit dialek daerah yang terletak disana. Ibu Erma
terlihat cukup cantik diumurnya yang menginjak kepala empat. Tubuhnya agak
tambun, namun karena wajahnya yang cantik menghilangkan kekurangan tersebut.
Akhirnya, aku dan pria ini masuk ke dalam rumah.
Rumah
ini memang sudah tidak lama ditinggali sepertinya. Meski demikian Ibu Erma
sudah berhasil menjaga dan memberishkan rumah ini. Sehingga keadaannya nampak
rapi dan bersih. Aku duduk di sofa yang tersedia di dalam, cukup nyaman meski
sofa ini sudah tidak zaman pada masa sekarang. Si jangkung yang kukenal
beberapa saat juga ikut duduk di depanku. Dia menyeruput teh yang disajikan
oleh Ibu Erma.
Aku
menatap sekeliling rumah ini, setidaknya ini memang rumah yang lulus dari
kualifikasiku. “So, are you sure I want
to buy this house? Even staying with you?” Pria ini menyilangkan kakinya
dan menaruh teh yang tadi diminumnya. Sinar matanya menatapku dengan penuh
ketegasan. “Tentu bukan aku yang yakin dokter, karena kau sendirilah yang yakin
untuk membeli rumah ini. Also do not mind
to stay with me.”
Pertengahan
Juli 2015
Jalan
Ah Nasution merupakan suatu kawasan dari kota Bandung, yang tepatnya berada di
lokasi Bandung Timur. Suasana disini tidak terlalu ramai seperti saat aku
tinggal di hotel dulu. Di depan rumah yang kutinggali adalah jalan raya besar
yang berbasis dua arah, dimana di seberang dari rumah ini ada sebuah toko kaos
yang menyediakan berbagai macam kaos. Tidak banyak gedung tinggi yang
menjulang, sepanjang jalan ini hanya ditempati oleh rumah-rumah yang berjejer
secara lurus, dengan jarak 4-5 rumah ada sebuah minimarket yang terselip
disana. Aku lebih suka menyebutnya sebagai sebuah desa daripada kota, karena
keadaan disini cukup tenang.
Pada
akhirnya rumah yang beralamat Jalan Ah. Nasution 193 ini menjadi tempat
tinggalku. Garis bawahi bukan hanya aku yang tinggal disini, tapi teman
serumahku yaitu Tony. Seseorang yang sangat berubah-ubah, dan orang yang sangat
sulit untuk ditebak. Sudah hampir dua bulan aku dan Tony menempati rumah ini
secara bersama-sama. Namun sudah hampir satu bulan Tony tidak berada di rumah
ini. Bukan sama sekali bukan karena dia pindah, Tony sering pulang juga. Hanya
saja kepulangannya adalah saat malam begitu larut dan selalu pergi saat aku
sudah terbangun. Tony temanku –setidaknya teman pertamku di Indonesia- dia
selalu tidak punya waktu untuk bicara selama satu bulan ini. Kata yang sering
keluar darinya hanyalah ya atau tidak, selebihnya tidak ada lagi.
Saat
itu aku tengah duduk di meja makan sambil membaca koran untuk melihat-lihat
apakah ada lowongan pekerjaan untuk ku tempati. Bersyukurlah diriku, karena
satu bulan sebelum Tony terlalu sibuk seperti sekarang dia sudah membuatku
lancar berbicara bahasa Indonesia, ya meski kuakui dialek ‘Kebule-bulean’ yang
sering dikatakannya padaku masih melekat. Entah mengapa sepanjang hari tersebut
Tony tidak pergi kemana-mana. Dia hanya duduk sambil menghabiskan waktunya
membaca-baca buku yang begitu tebal. Aku jamin standar tebal buku bacaan yang
selalu Tony baca adalah minimal 500 lembar. Tony menutup buku bacaannya dan
ikut duduk bersamku.
Tony
memakan camilan yang kemarin aku beli. Dia melirikku sesaat sambil mengunyah.
“Mencari lowongan?”
Aku menjawab tanpa memperhatikannya.
“Pekerjaan, itu lebih tepatnya.”
Tony terkekeh mendengar jawabanku. Aku
agak tersinggung karena sikapnya. Kurasa dalam jawabanku sama sekali tidak ada
kata-kata lucu yang terselip dan dialek ‘Kebule-buleanku’ juga berkurang. Aku
memberikannya tatapan kesalku. “Oh Come
on Alex. Pekerjaan itu tidak perlu dicari. Jika kau lihat membereskan
tempat tidurmu saja sudah menjadi pekerjaan. Ayolah setidaknya kalimatmu itu
harus lebih spesifik ‘Mencari uang.’ Itu yang harusnya kau katakan. Walau
sebenarnya uang tak berarti segalanya.”
“Kau ini adalah satu-satunya manusia
yang sangat betah dengan keadaan menganggurmu.” Aku tidak peduli bila kalimatku
akan menyinggung perasaannya. Aku rasa Tony sudah keterlaluan sekarang. Namun respon yang kudapat adalah sikapnya
yang begitu tenang. Dia menyatukan kedua tangannya seakan mau menjelaskan sesuatu
kepadaku. “Kau berasal dari Inggris, kau ingat aku mengatakan itu saat pertama
kali kita bertemu? Itu bukan tebakan itu hanya hasil pembacaan yang aku buat.
Ketika hujan saat itu kau mengenakan pakaian sebanyak tiga lapis, sementara
orang pribumi sepertiku hanya mengenakan cukup dua lapis. Tapi kau berbeda,
orang Inggris selalu mengenakan 2-3 lapis pakaian. Ayolah ini hanya negara
dengan dua musim tidak akan mungkin akan sedingin itu. Payungmu adalah payung
panjang dengan warna merah polos tanpa motif, bukan payung lipat yang sering
digunakan disini kau lebih mencolok dari yang lain. Selain itu karena bahasa
Inggrismu lebih kepada Inggris UK dari pada US.”
Aku melipat koranku yang belum habis
kubaca. “Kau bukan penguntit ternyata.”
“Semua hal bisa dibaca temanku Alex,
bahkan sekalipun yang bersifat sulit. Pada saat kau didepanku lah aku mulai
membacamu Alex temanku.” Pernyataannya sedikit sulit untuk aku terima, karena
apakah membaca adala semudah itu? Terlebih membaca situasi dan keadaan
seseorang. “Aku rasa bukan karena membaca saja Tony. Ada faktor lainnya juga.”
Tony tersenyum dan bertepuk tangan
dengan kalimat penolakanku. Seseorang yang begitu bahagia karena ada yang
menolak teorinya, aku rasa hanya Tony. “Benar sekali katamu temanku Alex, tentu
ada faktor lain yang mendukungnya. Pengetahuan. Tentu saja pengetahuan bisa
mendukung apapun di dunia ini sekalipun itu hal yang jahat.”
Tony
mengatakan pengetahuan. Kalau begitu dia pasti adalah seorang jenius. Dengan
banyaknya pengetahuan yang dia milikki, dia dapat menggabungkan benang-benang dari
apa yang dirinya baca. Lalu apakah sebenarnya pekerjaan yang dimiliki oleh
temanku Tony. Aku tidak melihat dirinya seperti pegawai kantor, pegawai swasta,
seorang pengusaha atau lainnya. Bisa jadi dia adalah seorang ilmuwan yang ada
di Indonesia. Dia tahu semua bidang ilmu, hanya saja dia tidak pernah terlihat
menyukai salah satu dari semua ilmu yang dia kuasai.
“Oh kediamanmu meyakinkanku bahwa kau
sangat ingin tahu apa pekerjaanku, Alex.” Tony menyadarkanku dari lamunan yang
kubuat tadi. Benar yang dikatakannya untuk pertama kali dalam seumur hidupku
aku ingin sangat tahu pekerjaan yang dimilikki oleh orang lain, terlebih Tony.
“Aku bingung Tony. Kau adalah seorang pengangguran, aku tidak akan minta maaf
untuk itu. Tapi selama hampir satu bulan penuh kau seperti orang yang sangat
sibuk. Bahkan tidak punya waktu untuk sekedar makan. Kau terus diam, yang jujur
saja aku merasa kau marah padaku pada waktu itu.”
“Temanku yang baik Alex. Maafkan bila
sikapku pada waktu kemarin-kemarin telah menyinggungmu. Hanya saja aku perlu
berkonsentrasi dalam pekerjaan. Maafkan aku lagi Alex, karena kau harus menarik
kembali ucapanmu kepadaku sebagai seorang pengangguran. Karena pada dasarnya
aku memilikki sebuah pekerjaan yang tak banyak orang tahu. Metodeku merupakan alatku
dalam bekerja.”
Dia
bekerja dengan sebuah metode. Ilmuwan memang benar merupakan sebuah pendekatan
yang tepat untuk pengungkapannya tadi. “Aku rasa aku bisa tahu apa pekerjaanmu
Tony.”
Tony
tidak menjawabku, pandangannya hanya terfokus pada telepon genggamnya.
Sepertinya ada seseorang yang mengiriminya pesan. Pesan itu tampaknya sangat
misterius, karena Tony terus memperhatikannya dengan seksama. Dia menyambar
jaketnya dan bersiap seperti akan pergi. “Well,
Alex untuk meyakinkanmu mengenai jawabanmu bisakah kau ikut bersamaku kali ini.
Tentu aku akan sangat tersanjung bila kau menerima ajakanku.” Tony beranjak
turun dari kamar dan menungguku di luar rumah. Saat aku bersiap, untuk pertama
kalinya setelah aku pindah akhirnya ibuku meneleponku.
“Oh
dear. I’m worried. Finally we can contact you.” Terdengar
jelas sekali bahwa ibuku begitu mengkhawatirkanku. Akhir-akhir ini aku memang
jarang memberikan mereka kabar. “I’m
sorry mom.”
“What
happen in Bandung?” Ibuku terus menanyakan hal-hal yang
memang membuatnya khawatir.
Aku menatap ke arah bawah, dimana disana
masih terlihat Tony berdiri untuk menungguku. “Nothing mom. But something special in here and something different
that is so much fun. I call you later mom. I love you.”
Aku
menutup sambungan teleponku. Kemudian menuruni kamarku menuju pintu keluar
rumah. Tony menggelengkan kepalanya malas. “Oh cepatlah Alex orang itu sangat
tidak suka keterlambatan.” Bersamaan itu aku dan Tony pergi meninggalkan rumah
dan dari sinilah aku akan tahu siapakah Tony.P
End of chapter I
Written by : Dewi Andriani
08 mei 2015
0 komentar :
Posting Komentar