Keluarga SPI Bersama YUYUN

Keluarga SPI Bersama YUYUN

Topik Terhangat

Home » , , , » Cerita Mini - AKU, EMAK DAN JAKARTA

Cerita Mini - AKU, EMAK DAN JAKARTA

Written By Itaa Azzahra on Selasa, 10 Mei 2016 | 20.29

AKU, EMAK DAN JAKARTA
By Itaa Azzahra
Ada banyak hal yang tidak mampu aku unggapkan, seolah semua hanya berhenti di titik yang sama, kerongkongan. Aku pikir diungkapkan atau tidak toh tidak akan ada yang peduli, tidak akan pernah ada. Meski rindu itu terkadang hadir dalam kesendirian menggores luka-luka yang bahkan belum kering, perih. Aku hanya mampu berdoa dalam keheningan malam. Aku ingin mencoba untuk menyalahkan tapi entah kepada siapa, takdir? Ah itu mustahil.
Hidup sebatangkara dalam rantauan ini membuat aku memahami akan makna kehidupan, meski pada kenyataannya aku harus puas diri dengan segala keterbatasan. Aku ingat sekali, awal dari semua ini adalah mimpi yang terlalu sempurna untuk diwujudkan, sebuah ambisi yang akhirnya memperturutkan hawa nafsu hingga mengambil keputusan tergesa-gesa. Ataukah ini karena kedurhakaanku pada Emak? Memaksanya untuk memberi izin dan uang agar aku bisa ke tempat ini. Ah mengingat Emak, dadaku rasanya sesak, seperti ada bongkahan batu besar di rongga dada.
Seandainya saja aku mendengarkan emak mungkin aku tidak akan seperti ini, setidaknya aku masih disampingnya menemani hari-hari tuanya, menghidupinya dari hasil bertani di kampung. Emak, wajah tuanya, tubuh ringkihnya selalu saja membayangi hari-hariku, membuatku semakin merasa berdosa. Seandainya aku bisa bersyukur dengan segala keadaanku mungkin sekarang aku sudah bahagia, berkeluarga dan memiliki anak-anak yang lucu, ah semua sudah terlanjur toh kenyataannya sekarang aku ada di tempat ini.
Tumpukan rongsokan di pojokan kamar itu masih belum kujual, aku sengaja mengumpulkannya lebih banyak agar hasilnya bisa aku gunakan untuk mengirimkan emak paket, dan sepucuk surat mengabarkan keadaanku. Mungkin aku akan membeli mukenah warna biru, warna kesukaan emak, aku ingat sekali sewaktu menemani Emak ke pasar, ia mengamati mukenah warna biru dengan hiasan mutiara-mutiara kecil di pinggirannya, diamatinya dengan seksama lalu berbisik ke arahku, “Kalau uang Emak sudah terkumpul, lebaran nanti Emak akan beli.” Aku yakin Emak belum memenuhi keinginannya itu, meski ini sudah lebaran kesekian kali.
Tok tok tok... Aku beranjak membuka pintu. Tarjo berdiri di hadapanku dengan wajah menunduk, aku sangat membenci orang ini sejak kali pertama kuinjakkan kaki di Jakarta, kota yang katanya mampu menyulap apapun menjadi uang. Tarjo lah yang meyakinkanku untuk meninggalkan kampung dan emak, katanya Jakarta bisa mewujudkan  mimpiku, termasuk menjadi penulis terkenal, katanya dia akan menghubungi temannya yang penerbit, tapi nyatanya semua hanya omong kosong, aku diperalat.
Rasanya ingin sekali meninju hidungnya yang besar itu, dasar pembohong. Segera kututup pintu tapi tangannya yang besar dengan sigap menghalangi, aku menatap tajam kearahnya.
“Aku tahu aku salah, maaf sudah membohongimu tapi ini sudah bertahun-tahun, tolonglah maafkan, dan sekarang untuk membalas semuanya aku akan membiayai kepulanganmu ke kampung.”
Aku hanya diam menatapnya, ini bukan tentang uang. Aku sudah berjanji pada emak bahwa aku akan menjadi penulis, menghasilkan buku-buku yang mampu menginspirasi banyak orang, dan sebelum bukuku terkirim maka ragaku tidak akan terlihat oleh emak, itu janji dan aku bukan orang seperti kau. Batinku meradang.
“Kau sudah dengar kabar tentang Emakmu?” Tiba-tiba jantungku berdebar kencang. “Emak kenapa?”
“Emakmu meninggal, jatuh dari ladang.”



0 komentar :

Posting Komentar