AKU,
EMAK DAN JAKARTA
Ada banyak hal yang
tidak mampu aku unggapkan, seolah semua hanya berhenti di titik yang sama, kerongkongan.
Aku pikir diungkapkan atau tidak toh tidak akan ada yang peduli, tidak akan
pernah ada. Meski rindu itu terkadang hadir dalam kesendirian menggores
luka-luka yang bahkan belum kering, perih. Aku hanya mampu berdoa dalam
keheningan malam. Aku ingin mencoba untuk menyalahkan tapi entah kepada siapa,
takdir? Ah itu mustahil.
Hidup sebatangkara
dalam rantauan ini membuat aku memahami akan makna kehidupan, meski pada
kenyataannya aku harus puas diri dengan segala keterbatasan. Aku ingat sekali,
awal dari semua ini adalah mimpi yang terlalu sempurna untuk diwujudkan, sebuah
ambisi yang akhirnya memperturutkan hawa nafsu hingga mengambil keputusan
tergesa-gesa. Ataukah ini karena kedurhakaanku pada Emak? Memaksanya untuk
memberi izin dan uang agar aku bisa ke tempat ini. Ah mengingat Emak, dadaku
rasanya sesak, seperti ada bongkahan batu besar di rongga dada.
Seandainya saja aku
mendengarkan emak mungkin aku tidak akan seperti ini, setidaknya aku masih
disampingnya menemani hari-hari tuanya, menghidupinya dari hasil bertani di
kampung. Emak, wajah tuanya, tubuh ringkihnya selalu saja membayangi
hari-hariku, membuatku semakin merasa berdosa. Seandainya aku bisa bersyukur
dengan segala keadaanku mungkin sekarang aku sudah bahagia, berkeluarga dan
memiliki anak-anak yang lucu, ah semua sudah terlanjur toh kenyataannya
sekarang aku ada di tempat ini.
Tumpukan rongsokan di pojokan
kamar itu masih belum kujual, aku sengaja mengumpulkannya lebih banyak agar
hasilnya bisa aku gunakan untuk mengirimkan emak paket, dan sepucuk surat
mengabarkan keadaanku. Mungkin aku akan membeli mukenah warna biru, warna kesukaan
emak, aku ingat sekali sewaktu menemani Emak ke pasar, ia mengamati mukenah
warna biru dengan hiasan mutiara-mutiara kecil di pinggirannya, diamatinya
dengan seksama lalu berbisik ke arahku, “Kalau uang Emak sudah terkumpul,
lebaran nanti Emak akan beli.” Aku yakin Emak belum memenuhi keinginannya itu,
meski ini sudah lebaran kesekian kali.
Tok tok tok... Aku
beranjak membuka pintu. Tarjo berdiri di hadapanku dengan wajah menunduk, aku
sangat membenci orang ini sejak kali pertama kuinjakkan kaki di Jakarta, kota
yang katanya mampu menyulap apapun menjadi uang. Tarjo lah yang meyakinkanku
untuk meninggalkan kampung dan emak, katanya Jakarta bisa mewujudkan mimpiku, termasuk menjadi penulis terkenal,
katanya dia akan menghubungi temannya yang penerbit, tapi nyatanya semua hanya
omong kosong, aku diperalat.
Rasanya ingin sekali
meninju hidungnya yang besar itu, dasar pembohong. Segera kututup pintu tapi
tangannya yang besar dengan sigap menghalangi, aku menatap tajam kearahnya.
“Aku tahu aku salah,
maaf sudah membohongimu tapi ini sudah bertahun-tahun, tolonglah maafkan, dan
sekarang untuk membalas semuanya aku akan membiayai kepulanganmu ke kampung.”
Aku hanya diam
menatapnya, ini bukan tentang uang. Aku sudah berjanji pada emak bahwa aku akan
menjadi penulis, menghasilkan buku-buku yang mampu menginspirasi banyak orang,
dan sebelum bukuku terkirim maka ragaku tidak akan terlihat oleh emak, itu
janji dan aku bukan orang seperti kau. Batinku meradang.
“Kau
sudah dengar kabar tentang Emakmu?” Tiba-tiba jantungku berdebar kencang. “Emak
kenapa?”
“Emakmu meninggal,
jatuh dari ladang.”
0 komentar :
Posting Komentar